• Home
  • Opini
  • Riset Ilmiah dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama

Riset Ilmiah dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama

Bagoes Pangestu Sangaji
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik / Prodi Hubungan Internasional

Kebutuhan kehidupan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan membutuhkan inovasi dan perkembangan yang berkelanjutan untuk bisa menghadapi berbagai fenomena peradaban yang dinamis. Tujuan tersebut bisa dicapai melalui aktivitas yaitu riset yang harapannya mampu menjadi suatu solusi dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan. Riset adalah cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2022). Tapi sayangnya, belakangan ini riset dan kesejahteraan rakyat sulit bersatu dan seringkali berjalan tidak secara beriringan. 

Riset Sebagai Fondasi Peradaban Dunia

Riset memiliki fungsi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terkini, memecahkan permasalahan, memperkuat pemahaman manusia tentang suatu fenomena, pengembangan metode dan memberikan dasar untuk pengambilan keputusan (Kumparan, 2023). Riset dilakukan oleh peneliti yang umumnya berasal dari kalangan akademisi, seperti mahasiswa, dosen, atau di organisasi masyarakat yang bergerak di bidang Research & Development. Negara juga melakukan riset melalui lembaga yang bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada bidang penelitian, pengkajian serta inovasi. Riset juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum yang tidak tergabung dalam sektor akademisi, selama riset yang dilakukan menggunakan metode sistematis dan melakukan analisis data secara objektif (Kompas.com, 2023).

Bukti nyata bahwa riset berjalan sebagai fondasi kehidupan adalah munculnya teknologi telepon seluler, internet, dan artificial intelligence. Kepemilikan telepon seluler oleh masyarakat Indonesia pada tahun 2021 tercatat 65,87% dan meningkat pada tahun 2022 sebanyak 67,88%. Persentase penduduk Indonesia telah mengakses internet sebanyak 62,10% pada tahun 2021 dan 66,48% pada tahun 2022 (BPS, 2023). Teknologi artificial intelligence diakses oleh masyarakat Indonesa sebanyak 79% dalam kegiatan sehari-hari yang dimana perusahaan global juga secara beriringan memanfaatkan teknologi artificial intelligence dalam aktivitasnya mencapai 35% (Kominfo, 2023).

Kesejahteraan Masyarakat Masih Tertinggal

Jumlah penduduk di Indonesia tercatat 283,5 juta jiwa pada tahun 2024 dan merupakan jumlah penduduk terbesar di dunia pada posisi ke empat (United Nations, 2024). Derajat kesehatan masyarakat Indonesia melalui angka kesakitan yang menunjukkan persentase penduduk mengalami gangguan kesehatan yang meakibatkan terganggunya kehidupan sehari-hari. Angka kesakitan pada tahun 2024 tercatat sejumlah 12,12% dan meningkat 0,97% dibanding tahun 2023 (BPS, 2024). Akses masyarakat terhadap layanan kesehatan masih terlihat ketimpangannya karena kurangnya fasilitas dan tenaga kesehatan yang berkontribusi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menurun data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), jumlah dokter yang terdata pada April 2024 sebesar 279.321 dokter, dengan indikator sebagian besar adalah dokter umum yaitu sejumlah 62,4%, sementara dokter spesialis dan dokter gigi spesialis berjumlah 59.422 orang atau 21% dari total dokter yang tercatat. Rasio dokter spesialis terhadap penduduk pada tahun 2024 yang berjumlah 281.603.800 jiwa, rasionya hanya mencapai angka 0,21. Permasalahan tersebut juga diperburuk oleh situasi ketimpangan sebaran dokter spesialis yang tidak merata. Indikator dokter spesialis sebagian besar berpusat di Pulau Jawa dan sekitar 18,3% dari total dokter spesialis berdomisili di Jakarta (BPS, 2024).

Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pada tahun 2024, sejumlah 24,3% dari 284,4 juta penduduk Indonesia tercatat tidak/belum sekolah per Desember 2024. Lulusan Sekolah Dasar mencapai 22,27% dari total penduduk dan lulusan sekolah menengah mencapai 35,96% dari total penduduk. Lulusan perguruan tinggi dengan tingkatan D1-S3 hanya mencapai 6,82% dari total jumlah penduduk (GoodStats, 2025). Persentase penduduk miskin di Indonesia menurut tempat tinggal pada tahun 2024 mencapai 11,64 juta jiwa pada perkotaan dan 13,58 juta jiwa pada perdesaan serta dengan total yaitu 25,22 juta jiwa jumlah penduduk miskin. Menurut pulau, Pulau Jawa menduduki peringkat pertama sebagai jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia yaitu sejumlah 13.327.000 jiwa pada tahun 2024. Pada sektor kebutuhan primer, harga beras yang meningkat memberikan kontribusi yang tinggi terhadap garis kemiskinan. Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras sangat memukul daya beli masyarakat miskin, mengingat bahwasanya masyarakat miskin mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pangan (BPS, 2024).

Participatory Action Research dan Participatory Rural Appraisal

Riset atau penelitian harus melibatkan masyarakat sebanyak dan semasif mungkin, tujuannya adalah supaya hasil riset yang diciptakan mampu menjadi sesuatu inovatif yang berbobot dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Metode Partisipatory Action Research (PAA) adalah metode penelitian yang melibatkan secara aktif masyarakat untuk menjadi subjek kegiatan riset secara berdampingan dengan peneliti.  Umumnya pada aktivitas penelitian, peneliti hanya melibatkan masyarakat hanya sebagai objek saja, sehingga permasalahan yang dianalisis sulit memberikan perubahan yang berarti dan memiliki nilai langsung bagi masyarakat. Tujuan daripada metode Partisipatory Action Research tersebut adalah untuk membangun kesadaran kehidupan bermasyarakat secara inklusif, membangun cara pandang tentang penelitian yang menekankan pada proses partisipasi yang maksimal, dan membawa transformasi nyata bagi masyarakat (LBH Jakarta, 2013).

Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) merupakan metode pengumpulan data dan analisis masalah yang melibatkan masyarakat, karena terdapat banyak kritik bahwa masyarakat hanya diperlakukan sebagai objek, bukan subjek. Partisipasi ini sangat penting karena didasari oleh nilai observasi-partisipasi, pendekatan kepada subjek dari suatu permasalahan serta perbedaan cara pandang oleh peneliti dan cara pandang oleh masyarakat. Teknik yang dilakukan menggunakan metode wawancara terhadap masyarakat lokal dan focus group discussion bersama masyarakat yang memahami situasi secara mendalam dan representatif, sehingga dengan teknik tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang inklusif (FISIPOL UGM, 2022). Perbedaan Participatory Action Research (PAA) dan Participatory Rural Appraisal (PRA) terletak pada fokus dan tujuan. PAR berfokus pada proses penelitian yang berkolaborasi dengan masyarakat dan melibatkan masyarakat sebanyak-banyaknya dalam proses penelitian. Sedangkan PAA berfokus pada pengumpulan informasi dan analisis masalah secara langsung dari kebiasaan masyarakat lokal, sehingga rumusan permasalahannya lebih aktual. Tujuan dari PAR untuk menciptakan perubahan sosial yang signifikan untuk menghasilkan tindakan dalam mengatasi masalah (LBH Jakarta, 2013). Tujuan PRA adalah mengumpulkan data yang akurat mengenai kondisi sosial dan lingkungan masyarakat untuk memiliki pemahaman atas permasalahan yang sedang dihadapi (UPN Veteran Yogyakarta, 2018). 

 

Releated Posts

Kalahkan 81 Ribu Pesaing, Mahasiswa UMM Ini Terpilih Jadi Google Student Ambassador

Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), pelajar dituntut untuk lebih proaktif dalam memahami dan mengedukasi teknologi. Tantangan…

ByByAdmin Bestari Jul 13, 2026

Qris Bukan Sekedar Sistem Pembayaran Digital, Tapi Peluang Membangun Perekonomian Menuju Indonesia Maju

SITA TRI HANDAYANI VOKASI / TEKNOLOGI ELEKTRONIKA Quick Response Code Indonesian Standard atau biasa disebut (Qris) merupakan standard…

ByByAdmin Bestari Jun 11, 2025

Islam Penyeimbang di dalam Perkembangan Teknologi dan Pendidikan Indonesia

Oleh : Hanif Rafif  Fakultas Agama Islam/Hukum Keluarga Islam Pada zaman ini kita telah memasuki zaman modern yang…

ByByAdmin Bestari Jun 11, 2025

Kebangkitan Nasional: Saatnya Pendidikan Jadi Prioritas Nyata

Taqiyyuddin Zuhair Al Huda FISIP/HUBUNGAN INTERNASIONAL Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Poster-poster bermunculan…

ByByAdmin Bestari Jun 11, 2025