Di tengah ancaman anomali cuaca ekstrem dan krisis pemanasan global yang kian mengkhawatirkan, peran perguruan tinggi dituntut melampaui sekadar retorika di atas kertas. Menjawab urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus inovasi yang memberikan solusi konkret. Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM, sukses meraih pendanaan bergengsi Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) 2025–2026 dengan perolehan hibah riset sebesar Rp450 juta.
Mengusung riset bertajuk “Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang”, proyek ini dirancang secara strategis untuk mereduksi emisi gas rumah kaca. Berbeda dengan penelitian konvensional yang terkungkung di ruang tertutup, Nugroho menerapkan konsep living lab atau laboratorium hidup. Pendekatan ini menempatkan alam terbuka sebagai ruang eksperimental di mana penelitian diuji, dipraktikkan, dan dievaluasi secara langsung bersama masyarakat serta pemerintah daerah.
“Sebetulnya pendekatan living lab ini mengajak kita untuk keluar dari laboratorium fisik menuju laboratorium alam. Kita menjadikan kawasan hutan dan lahan di Kabupaten Malang sebagai subjek sekaligus objek penelitian yang dinamis,” jelas Nugroho.
Dalam implementasinya, riset ini melakukan pemetaan potensi serapan karbon secara presisi, yang kemudian ditindaklanjuti dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga lokal. Petani dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove. Nugroho menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menciptakan efek domino; tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia.
“Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” terangnya.
Keberhasilan menembus seleksi nasional yang sangat ketat ini tidak lepas dari dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM yang memfasilitasi kolaborasi enam akademisi lintas disiplin. Harapannya, program ini tidak hanya berhenti saat masa riset usai, melainkan diadopsi sebagai landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen.
Sebagai penutup, Nugroho memberikan pesan bagi sivitas akademika agar riset yang dihasilkan tidak berakhir sebagai tumpukan publikasi jurnal semata. Menurutnya, sebuah temuan harus memiliki kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
“Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal. Maka, cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesannya.














