
Menguatnya fragmentasi sosial global dan ketimpangan akses terhadap pengetahuan menempatkan pendidikan pada titik krusial. Ketegangan ini menjadi fokus utama dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Mengusung tema “Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global”, forum ini menekankan bahwa inklusi bukan sekadar jargon, melainkan praktik nyata yang harus menjawab ketimpangan.
Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Nunuk Suryani, M.Pd., dalam perspektif kebijakan makro, menyatakan bahwa pendidikan inklusif adalah keharusan moral sekaligus sistemik. “Kami mengusung visi pendidikan berkualitas untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” tegasnya. Ia menekankan bahwa transformasi keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor. Kebijakan afirmatif dan penguatan peran guru pendidikan khusus adalah bagian dari strategi nasional untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Sementara itu, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM, dari UMM, menambahkan bahwa capaian pendidikan tidak dapat semata-mata diukur secara kuantitatif. Persentase antar wilayah dan kelompok sosial yang masih lebar adalah masalah utama. “Pendidikan berkeadilan adalah inti dari SDGs keempat, yang menekankan inklusivitas dan pembelajaran sepanjang hayat,” ungkapnya. Menurutnya, pendidikan inklusif harus dimulai dari perubahan paradigma, dimana perbedaan dipandang sebagai sumber daya, bukan penghambat pembelajaran.
Neneng Haryati, S.Si., MM., memberikan pandangan mengenai standar profesi guru sebagai fondasi utama pendidikan inklusif. Menurutnya, PPG menjadi bagian integral dari tata kelola guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan berkelanjutan, penelitian praktik pembelajaran, serta kolaborasi lintas pendidikan untuk menjawab tantangan global. Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi kunci dalam membangun sistem pendidikan yang berdaya saing.
Seminar ini berhasil memecahkan kompleksitas tantangan pendidikan global dan menawarkan peta jalan menuju keadilan pendidikan yang lebih inklusif. UMM melalui program PPG berkomitmen untuk terus mencetak tenaga pendidik profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap berbagai tantangan pendidikan. Pendidikan adalah instrumen yang paling ampuh untuk memecah belah sekat-sekat sosial dan membangun masa depan peradaban yang lebih adil dan menguntungkan bagi semua kalangan. (*)
















