Konsistensi dalam menebar ilmu pengetahuan membuahkan apresiasi tingkat dunia. Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., resmi mencatatkan namanya dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan prestisius ini dianugerahkan atas dedikasinya sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Hingga Januari 2026, tercatat ia telah tampil sebanyak 97 kali dalam forum International Deliberation on Islam dan angka tersebut terus bertambah.
International Deliberation on Islam merupakan panggung strategis yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan dari seluruh penjuru dunia. Setiap sesinya rutin diikuti oleh 400 hingga 500 peserta, yang mayoritas terdiri dari para profesor dan doktor. Prof. Ishomuddin telah aktif dalam forum ini sejak tahun 2018, menjadikannya salah satu sosok kunci dalam diskursus keilmuan Islam global.
Dalam berbagai paparannya, Prof. Ishomuddin secara tajam membedah epistemologi Islam dengan menekankan tiga paradigma utama: Bayani (pendekatan teks), Burhani (pendekatan logika), dan Irfani (pendekatan spiritual). Ia memberikan atensi khusus pada pendekatan Irfani yang dinilainya sering terpinggirkan, padahal sangat penting untuk membumikan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari. “Pendekatan Irfani ini memiliki kedalaman makna yang sangat krusial dalam memahami Islam secara komprehensif,” tegasnya.
Dedikasi Prof. Ishomuddin tidak terbatas pada forum internasional. Ia juga dikenal sebagai akademisi yang sangat produktif. Sejak 2013, ia telah melahirkan sekitar 100 karya yang tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Rekam jejak intelektual ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ilmuwan yang berdedikasi penuh pada riset dan pengabdian. Melalui berbagai forum dunia, ia terus menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, inklusif, dan damai bagi umat Islam global.
Pencapaian monumental ini sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai institusi pendidikan yang progresif. Kampus Putih senantiasa mendorong sivitas akademikanya untuk mendobrak batasan dan memberikan kontribusi nyata di kancah dunia. Prof. Ishomuddin membuktikan bahwa kedalaman ilmu dan konsistensi dalam berbagi akan selalu mendapatkan pengakuan, sekaligus menjadi mesin penggerak keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Semoga kiprahnya terus menjadi inspirasi bagi akademisi lain untuk terus berkarya dan mengharumkan nama bangsa di panggung internasional. (*)
















