Wujudkan Desa Tangguh, BEM UMM Bekali Warga Kedungdalem Kesiapan Mental dan Ketahanan Ekonomi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan aksi nyata penguatan kapasitas masyarakat pesisir melalui kegiatan pemberdayaan di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, pada 24 September lalu. Mengusung pendekatan holistik, kegiatan ini membekali warga dengan dua aspek krusial dalam menghadapi krisis, yakni kesiapan mental melalui Pertolongan Psikologis Awal (Psychological First Aid/PFA) dan penguatan ketahanan ekonomi berbasis manajemen risiko usaha.

Sebagai wilayah pesisir, Desa Kedungdalem dikenal rentan terhadap banjir rob dan angin kencang.
Kondisi tersebut mendorong BEM UMM untuk tidak hanya fokus pada aspek fisik kebencanaan,
tetapi juga pada kesiapan psikologis dan keberlangsungan ekonomi warga. Menurut panitia,
ketangguhan desa tidak cukup diukur dari infrastruktur semata, melainkan dari kemampuan
warganya bertahan dan bangkit pascakrisis.

Pada sesi pertama, warga yang terdiri atas ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan
mendapatkan pelatihan Psychological First Aid (PFA). Materi ini bertujuan membekali masyarakat
agar mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami tekanan psikologis pada fase
awal pascabencana.

Fasilitator kegiatan, M. ‘Ainurridho ‘Allaamsyah, menjelaskan bahwa pendekatan empatik menjadi
kunci utama dalam penanganan awal trauma. “Sering kali korban tidak membutuhkan penjelasan
medis yang rumit, melainkan kehadiran yang menenangkan dan membuat mereka merasa aman,”
ujarnya. Peserta juga dilatih teknik pernapasan sederhana untuk menstabilkan emosi serta cara
berkomunikasi yang tepat agar kondisi psikologis korban tidak semakin memburuk.

Selain kesiapan mental, aspek ekonomi turut menjadi perhatian utama. BEM UMM memberikan
edukasi terkait manajemen risiko dan keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM lokal. Mengingat
bencana kerap melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, peserta dibekali pemahaman mengenai
business continuity plan sederhana yang dapat diterapkan pada usaha skala rumah tangga.

Narasumber kegiatan, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., menyampaikan bahwa banyak
usaha kecil gagal bertahan bukan semata karena kerusakan fisik, melainkan karena tidak adanya
perencanaan darurat. Dalam sesi ini, warga diajak menyusun prioritas pemulihan usaha, mengelola aset, serta menentukan langkah awal agar usaha tetap berjalan di masa pemulihan pascabencana.

“Selama ini kalau bencana datang, kami hanya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah yang bisa
dilakukan supaya usaha tetap bertahan,” ungkap salah satu peserta yang merasakan manfaat
langsung dari kegiatan tersebut.

Melalui integrasi penguatan mental dan ekonomi ini, BEM UMM berharap warga Kedungdalem tidak lagi sekadar menjadi objek terdampak bencana, tetapi mampu berperan sebagai subjek yang
tangguh dan adaptif. Ke depan, program serupa direncanakan akan diperluas ke wilayah rawan
bencana lainnya di Kabupaten Probolinggo hingga akhir tahun. Sinergi antara mahasiswa dan
masyarakat ini diharapkan dapat melahirkan komunitas pesisir yang lebih siap, resilien, dan mampu bangkit lebih cepat dari setiap krisis.