Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi konkret atas persoalan sampah dan krisis lingkungan melalui pembangunan sistem pengolahan limbah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs), sekaligus memperkuat indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Program tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan dipasang secara terintegrasi oleh tim internal kampus.
Dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik, kampus ini menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Komposisinya terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen), serta limbah ranting mencapai 300 kilogram atau 25 persen. Sebelum sistem ini dibangun, TPS hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, sehingga sebagian besar limbah masih bergantung pada pengangkutan keluar kampus tanpa proses pengolahan.
Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM., menjelaskan bahwa pembangunan sistem tersebut berawal dari kebutuhan menghadirkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya.
Proyek tersebut digarap oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM, unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik. Seluruh proses, mulai dari desain teknik, manufaktur hingga instalasi, dikerjakan oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” tuturnya.
Tiga alat utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam untuk menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter, mesin pencacah ranting berkapasitas 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa, serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen. Sistem tersebut dirancang sebagai alur terpadu, di mana sampah campuran dari kantin dan aktivitas kampus dapat langsung dimasukkan ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang, sedangkan sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan.
Ia menambahkan bahwa konsep pengembangan sistem ini diarahkan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak memerlukan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya.
Ke depan, fasilitas pengolahan sampah terpadu tersebut diharapkan menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus laboratorium riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan limbah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu melahirkan inovasi baru berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, sistem ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, dan menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau.
