
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini tidak sekadar mengguncang stabilitas keamanan dan ekonomi global, tetapi juga secara langsung menelanjangi posisi tawar diplomasi luar negeri Indonesia. Di tengah ancaman krisis multidimensi ini, publik mempertanyakan keberanian bangsa: akankah Indonesia terus berlindung di balik sikap normatif demi mencari aman, atau berani mengambil peran sentral sebagai juru damai yang sesungguhnya di kancah dunia? Kegelisahan tersebut dibongkar secara kritis dalam forum diskusi bertajuk “Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia”. Acara ini diselenggarakan melalui kolaborasi Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, pada Kamis (23/4).
Kepala PSIB sekaligus Guru Besar HI UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menilai bahwa Indonesia saat ini masih sekadar bersembunyi di balik tameng hukum internasional. Menurutnya, keputusan pemerintah untuk tidak mengecam AS secara lugas memang dapat dipahami sebagai strategi menjaga peluang sebagai penengah konflik. Meskipun demikian, memenangkan sebuah diplomasi di tingkat global membutuhkan ketahanan sumber daya yang mumpuni, bukan hanya bermodalkan norma semata.
“Kekuatan narasi Indonesia belum berdampak pada level internasional, karena kebijakan kita masih berada pada tataran konseptual,” ujar Prof. Gonda memberikan kritik tegas terhadap nyali diplomasi bangsa.
Senada dengan hal itu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D., menerangkan bahwa dampak gejolak geopolitik ini dipastikan menjalar langsung pada kehidupan masyarakat di Tanah Air berupa ancaman lonjakan harga minyak dunia yang dapat mengguncang ekonomi domestik. Ia menyebutkan, kehati-hatian pemerintah dalam merespons konflik tersebut memang realistis mengingat dominasi negara maju dalam rantai produksi global yang masih tak terbantahkan.
“Namun, kehati-hatian itu belum cukup menjadikan kita aktor strategis, sehingga ambisi penengah berisiko menjadi wacana hampa tanpa diplomasi yang tegas,” ungkapnya menyoroti celah kebijakan pemerintah.
Menyikapi kompleksitas tantangan global tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazruddin Malik, M.Si., menitikberatkan pada keharusan menggunakan pendekatan yang moderat dan adaptif dalam menghadapi relasi antarnegara melalui lensa gagasan Islam Berkemajuan. Ia juga meyakini bahwa peningkatan kapasitas intelektual generasi muda dari bangku kampus merupakan fondasi dasar yang menjadi kunci utama bangsa ini dalam merespons tantangan zaman.
“Sebagai negara berpasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi memadai, sehingga kita butuh penguatan industri domestik,” paparnya mengingatkan pentingnya kemandirian kepada seluruh sivitas akademika yang hadir.
Sebagai penutup, forum akademik ini melahirkan sebuah pesan penting bahwa kelemahan bangsa kita bukanlah pada ketidakmampuan kaum intelektual dalam menganalisis sebuah konflik internasional. Tantangan terberatnya justru terletak pada keberanian dalam menentukan sikap diplomasi yang proaktif. Bersandar secara eksklusif pada pendekatan normatif tanpa dibarengi kekuatan implementasi hanya akan membuat Indonesia semakin terpinggirkan dari percaturan elite global. Perubahan arah kebijakan yang lebih terukur dan berani sangat mendesak dilakukan agar kita tidak lagi sekadar menjadi penonton pasif di arena geopolitik masa depan.
















