Iklim riset internasional kembali ditunjukkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui prestasi mahasiswanya. Abi Mufid Octavio dari Program Studi Teknik Mesin berhasil menjadi wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121, Kamis (28/4/2026). Prestasi ini diraih berkat publikasi karya ilmiah turbin anginnya yang sukses menembus jurnal internasional terindeks Scopus Q3. Pencapaian gemilang ini sekaligus memberikannya hak istimewa berupa ekuivalensi bebas skripsi dari pihak kampus.
Penelitian yang mengangkat efisiensi turbin angin sumbu vertikal ini bukan sekadar tugas akhir biasa. Proyek tersebut merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis antara dosen UMM dan mahasiswa National Formosa University, Taiwan. Mufid merancang alat ini agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah sebagai solusi energi pedesaan. Alat ini juga menggunakan material lokal sehingga perawatannya dapat dilakukan secara mandiri oleh warga tanpa biaya besar.
Bagi Mufid, kebermanfaatan suatu penemuan menjadi tolak ukur esensial dalam bidang keteknikan. Ia selalu meyakini bahwa karya akademis yang baik harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat di akar rumput. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Prinsip membumi inilah yang terus mendasari berbagai inovasi teknologinya selama masa perkuliahan.
Rekam jejak akademik Mufid selama menimba ilmu memang sangat luar biasa dan komprehensif. Selain publikasi bergengsi, ia memegang Hak Cipta alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan rutin meraih pendanaan riset dari Kemendikbudristek. Di arena kompetisi, ia pernah menyabet gelar bergengsi pada Pilmapres Nasional 2025, meraih medali perak sains ASEAN, dan menjuarai kontes kapal cepat. Rentetan prestasi gemilang inilah yang mematangkan kesiapannya untuk melanjutkan studi ke jenjang magister nanti.
Keberhasilan intelektual ini diakui Mufid sangat dipengaruhi oleh ekosistem kampus yang amat suportif. Ia merasa pihak universitas selalu mewadahi serta mendorong potensi mahasiswanya secara maksimal. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama, semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda berprestasi tersebut. Pesan ini diharapkan dapat menginspirasi sivitas akademika lainnya untuk tidak ragu dalam menghasilkan karya.
Menutup wawancaranya, Mufid membagikan sebuah pesan berharga mengenai resiliensi di dunia akademik. Ia sangat memahami bahwa rintangan teknis dan kegagalan desain adalah makanan sehari-hari para peneliti muda. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya memotivasi rekan mahasiswa lain.














