Di tengah maraknya fenomena “publish or perish” yang kerap menjebak akademisi global untuk sekadar mengejar kuantitas publikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru membuktikan kelasnya melalui kedalaman riset. Dosen Fakultas Hukum (FH) UMM, Dr. Sholahuddin Al Fatih, M.H., resmi menembus jajaran elit Top 100 Dunia bidang Ilmu Sosial versi lembaga pemeringkatan global measuresHE. Capaian prestisius ini menempatkan namanya pada peringkat ke-91, mensejajarkannya dengan deretan peneliti kelas atas dari kampus bergengsi seperti Oxford University di Inggris hingga Deakin University di Australia.
Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik dan objektif menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global tanpa memberlakukan skema langganan berbayar. Fatih menjelaskan bahwa pemeringkatan ini murni menyaring pilar intelektual sejati melalui tiga metrik ketat dari data Scopus dan Web of Science, yakni Research Gravitas untuk kedalaman karya, Olympic Mean untuk konsistensi mutu, serta Interaction Credit untuk kolaborasi substantif.
“Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak luas, bukan sekadar berlomba mengejar jumlah publikasi. Tepatnya, saya menempati peringkat ke-91 dari seleksi ketat seluruh peneliti di dunia,” tegas Fatih saat dihubungi oleh Tim Humas UMM.
Sepanjang kariernya, dosen berprestasi ini tercatat menelurkan puluhan artikel terindeks Scopus dan Web of Science yang secara konsisten membedah persoalan aktual, seperti disrupsi teknologi dan media sosial. Bukti nyata dari prinsip riset berdampak tersebut tercermin pada karya unggulannya di masa pandemi tahun 2021 yang mengkaji fenomena kebebasan berekspresi di media sosial serta konsekuensi hukumnya bagi masyarakat luas.
“Ruang digital terbukti mampu memicu dampak yang sangat nyata di dunia nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan pidana. Dari kajian inilah saya melihat bahwa hukum harus hadir secara praktis dan solutif di tengah masyarakat, tidak boleh berhenti hanya di tataran konsep teoretis semata,” urai akademisi yang juga telah memiliki ratusan karya di Google Scholar ini.
Kesuksesan riset bertaraf internasional ini diakui tidak terlepas dari kuatnya dukungan ekosistem akademik Kampus Putih yang secara konsisten memfasilitasi kelancaran riset dosen melalui akses jurnal primer, infrastruktur mutakhir, dan insentif publikasi. Ke depan, Fatih bertekad terus mengharumkan nama institusi sekaligus membagikan rahasia produktivitasnya, yakni merawat konsistensi ide melalui kebiasaan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap harinya.
“Bagi saya, riset yang baik adalah riset yang pada akhirnya memberi dampak nyata. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan oleh seluruh sivitas akademika adalah berani memulai, tidak takut ditolak oleh jurnal, dan terus melangkah maju untuk memajukan iklim keilmuan,” pesannya memotivasi para generasi muda.
Sebagai institusi pendidikan yang progresif, capaian monumental ini diharapkan menjadi pemantik yang kuat bagi lahirnya peneliti-peneliti tangguh lainnya di lingkungan Kampus Putih. Keberhasilan Dr. Sholahuddin Al Fatih membuktikan bahwa dedikasi pada kualitas dan relevansi ilmu pengetahuan pada akhirnya akan selalu diakui dunia, sekaligus memastikan bahwa riset perguruan tinggi terus menebar manfaat nyata bagi peradaban masyarakat luas.















