Makasar, 1 Juli 2025 – Anak tunagrahita memiliki tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran, khususnya dalam menguasai kosakata Bahasa Indonesia. Keterbatasan kognitif yang memengaruhi daya ingat, konsentrasi, dan pemahaman terhadap instruksi verbal membuat mereka membutuhkan media belajar yang lebih konkret, interaktif, dan menyenangkan.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti mahasiswa UMM yang diketuai Devy Putri Susilo Program Studi Bahasa Indonesia beranggotakan Ainur Fajrianto Program Studi Manajemen berhasil mengembangkan SHINE UP, sebuah aplikasi berbasis teknologi Virtual Reality (VR) yang dirancang khusus sebagai media pembelajaran kosakata Bahasa Indonesia bagi anak tunagrahita. Aplikasi ini hadir sebagai inovasi edukatif yang tidak hanya mengedepankan teknologi terkini, tetapi juga berfokus pada kebutuhan khusus peserta didik berkebutuhan khusus. Hasil validasi menunjukkan bahwa SHINE UP memperoleh nilai kelayakan sebesar 98% dari para ahli materi, media, dan desain dengan kategori “sangat layak”. Aplikasi ini menyajikan lingkungan pembelajaran yang imersif melalui simulasi 3D, narasi audio yang mendampingi setiap kosakata, serta fitur interaktif yang memungkinkan anak-anak berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran. Selain mode VR, SHINE UP juga menyediakan mode non-VR untuk menjangkau pengguna dengan keterbatasan perangkat.
“SHINE UP merupakan langkah nyata dalam mengintegrasikan teknologi mutakhir dengan pendidikan inklusif,” ujar Devy selaku ketua tim. “Dengan aplikasi ini, kami berharap proses pembelajaran bagi anak tunagrahita dapat menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik mereka.”
Keberhasilan SHINE UP tidak hanya menunjukkan efektivitas pendekatan berbasis teknologi dalam pendidikan khusus, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan lanjutan. Di masa depan, aplikasi ini berpotensi dikembangkan untuk materi pelajaran lainnya, serta diimplementasikan secara luas di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusif di seluruh Indonesia.
Dengan munculnya SHINE UP, dunia pendidikan kembali menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan pendidikan yang ramah, adaptif, dan setara bagi semua kalangan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
