Muhammad Rozan Dwi Putra /Fakultas Hukum
Juara III Pilmapres UMM
Malang, Menjadi mahasiswa tak berarti hanya hadir di ruang kelas dan menyelesaikan tugas akademik. Bagi Muhammad Rozan Dwi Putra, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), masa kuliah adalah momentum emas untuk menggali potensi diri dan berkontribusi lebih luas.
Sejak awal masa kuliah pada tahun 2022, Rozan tak pernah membatasi diri hanya sebagai pelajar. Ia aktif di berbagai organisasi dan kompetisi, utamanya di bidang debat hukum dan konstitusi. Keterlibatannya tidak sekadar formalitas. Rozan bahkan dipercaya menjadi Ketua Komunitas Riset dan Debat FH UMM periode 2023–2024 dan kini menjabat sebagai Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa FH UMM untuk periode 2024–2025.
Di tengah kesibukannya, Rozan berhasil meraih tujuh gelar juara dalam berbagai kompetisi debat hukum tingkat nasional. Selain itu, ia juga memiliki karya ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal nasional terindeks SINTA 3, menandakan kontribusinya dalam bidang akademik.
Rozan mengakui bahwa perjalanan ini tidak selalu mulus. Rasa malas dan lelah sering kali datang, terutama akibat padatnya kegiatan organisasi dan kuliah. Namun, ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hal tersebut. “Kalau lelah, saya rehat sejenak. Tapi kalau malas datang tanpa sebab, saya ingat kembali tujuan saya berkuliah dan kenapa saya aktif. Biasanya itu cukup untuk memulihkan semangat,” ujar Rozan.
Potensi Rozan dalam bidang komunikasi dan kepemimpinan tidak datang begitu saja. Ia menyadarinya melalui proses refleksi dan pengalaman langsung. “Saya sadar saya punya kepercayaan diri, suka bicara, suka mengorganisir. Maka saya pilih masuk organisasi dan ikut lomba untuk aktualisasi,” jelasnya.
Baginya, tak ada cara yang lebih efektif dalam mengembangkan potensi selain langsung terjun ke lingkungan yang sesuai. “Kalau kita punya potensi leadership, masuk saja ke organisasi. Di sana kita akan belajar memimpin, mempengaruhi orang lain, dan menyatukan tujuan,” katanya.
Rozan juga menyampaikan pandangannya soal budaya organisasi di kampus. Menurutnya, stigma bahwa organisasi menghambat studi masih cukup kuat di kalangan mahasiswa. “Padahal, organisasi seharusnya hadir sebagai wadah, bukan penghalang,” tegasnya.
Untuk menyeimbangkan kuliah dan organisasi, Rozan menekankan pentingnya skala prioritas dan komunikasi. “Kuliah tetap prioritas utama. Kalau ada benturan jadwal, saya pilih kuliah dulu. Di organisasi kan banyak orang, tinggal bagaimana kita bisa berkomunikasi agar tetap bisa terlibat dengan baik.”
Dengan prinsip hidup yang ia pegang teguh “do the best or nothing” Rozan terus melangkah, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain yang ingin membuktikan bahwa prestasi bisa diraih dengan konsistensi, manajemen waktu, dan semangat untuk berkembang.
