Firda Amalia, mahasiswa Ekonomi Pembangunan angkatan 2023 di Universitas Muhammadiyah Malang, pengalaman dua minggu bersama mahasiswa Politeknik Singapura dalam program Learning Express (LeX) bukan hanya soal tugas akademik, volunteer atau hanya mengikuti program kerjasama kampus putih. Tetapi tentang keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
“Motivasi awal saya ikut LeX karena ingin berinteraksi langsung dengan teman-teman internasional. Saya ingin merasakan atmosfer student exchange, dan program ini jadi pintu pembuka sebelum saya bener-bener bisa merasakan study exchange di luar negeri,” ujarnya antusias.
Program tahunan ini mempertemukan mahasiswa dari Singapura dan mahasiswa UMM untuk menyelesaikan permasalahan nyata yang dihadapi pelaku UMKM lokal yang ada di Kota Malang. Bersama tim dari Politeknik Singapura, Firda ditugaskan mendampingi sebuah usaha oleh-oleh bernama Citra Mandiri. Selama dua minggu penuh, mereka berdiskusi, mengobservasi, dan merancang solusi nyata untuk membantu produk lokasl dan semuanya menggunakan bahasa Inggris.
“Salah satu tantangan terbesarnya adalah Bahasa ungkap firda. Bahkan teman-teman yang biasa bicara bahasa Inggris tetap merasa kesulitan karena logat teman-teman dari Singapura cukup berbeda yaitu menggunakan Singlish. Tapi justru dari situlah kami belajar banyak Walaupun terkadang menggunakan Bahasa tubuh atau isyarat” kenang Firda.
Selain komunikasi, perbedaan budaya kerja juga menjadi pelajaran penting. Mahasiswa Singapura dikenal sangat disiplin dan menghargai waktu, hal yang kemudian ikut membentuk sikap para peserta dari Indonesia untuk lebih profesional dan efisien. “Kita diingatkan berkali-kali untuk menghargai waktu. Kalau di Indonesia masih bisa santai, teman-teman internasional Singapore bisa menganggap itu tidak menghargai, waktu” tambahnya.
Firda dan timnya mengidentifikasi permasalahan utama UMKM tersebut bukan pada teknologi, melainkan pada sisi pemasaran. Sang pemilik usaha tidak ingin mencampurkan proses produksi tradisionalnya dengan alat modern, sehingga mereka berfokus pada branding produk. Solusi yang ditawarkan? Membuat maskot dan desain kemasan yang menarik, guna membedakan produknya dari oleh-oleh lain di Kota Batu.
“Kami melihat bahwa visual dan identitas produk masih kurang menonjol. Jadi, kami bantu buatkan maskot dan desain kemasan. Syukur Nya, responnya sangat positif,” katanya.
Program ini juga membawa dampak personal yang kuat bagi Firda. Selain kemampuan komunikasi dalam bahasa Inggris yang meningkat, ia juga mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim multikultural, belajar menghargai perbedaan, dan tentu saja menambah jejaring internasional. Ketika ditanya apakah ia merekomendasikan program ini untuk mahasiswa lain, jawabannya tegas.
“Sangat saya rekomendasikan. Program ini membuka wawasan, membentuk karakter, dan memberikan pengalaman nyata. Jangan takut mencoba. Kita tidak akan tahu seberapa jauh bisa berkembang kalau tidak berani keluar dari sarang sendiri,” tutupnya.
Program Learning Express bukan hanya tentang menyelesaikan proyek. Ia adalah jembatan. Jembatan untuk tumbuh, menjelajah dunia, dan menemukan versi terbaik dari diri sendiri.
