UMM Raih Status UNESCO Chair, Perkuat Misi Global Selamatkan Ekosistem Air

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai Chair and Host Institution dalam program Sustainable Water Ecosystem mulai tahun 2026. Pengakuan ini diberikan melalui kemitraan dengan UNESCO setelah UMM dinilai memiliki rekam jejak yang kuat dalam penelitian, inovasi pertanian berkelanjutan, serta pengabdian masyarakat di berbagai wilayah.

Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD. menjelaskan bahwa status UNESCO Chair merupakan bentuk kepercayaan global kepada perguruan tinggi yang mampu menjadi mitra strategis dalam menjalankan agenda keinginan. Ia menyebut pencapaian tersebut tidak mudah dicapai karena membutuhkan bukti nyata kontribusi penelitian dan dampak sosial. “University Chair itu artinya kampus yang secara resmi dijadikan mitra dalam program-program UNESCO. Di Indonesia, kita mengiranya yang ketiga,” ujarnya. Ia menambahkan, “Bergabungnya UMM menandai langkah strategi kampus untuk memperluas kontribusi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.”

Ia menuturkan bahwa keterlibatan UMM dalam jejaring UNESCO berangkat dari visi menghadirkan kontribusi global melalui inovasi berkelanjutan. Berbagai program seperti Green Farming, Smart Farming, hingga pengembangan energi terbarukan mikrohidro menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk sumber daya air. “Kita memang tidak secara khusus merawat udara, tetapi melalui Smart Farming dan energi terbarukan akhirnya kita menyelamatkan udara,” ujarnya.

Momentum penting terjadi saat tim UMM melakukan penelitian dan pengabdian di Tabanan, Bali, yang dikenal dengan sistem pertanian Subak sebagai warisan dunia. Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut menghadapi ancaman akibat penggunaan pestisida serta alih fungsi lahan menjadi kawasan pariwisata. “Kalau sawah berubah jadi vila dan petani tidak bertani lagi, daerah resapan air hilang. Kalau tidak ada resapan air, air itu dari mana?” mengungkapkannya.

Sebagai bagian dari komitmen global tersebut, UMM juga terlibat dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, salah satunya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyampaikan bahwa puluhan dosen diterjunkan untuk membantu masyarakat menemukan sumber air serta mendukung ketahanan pangan. “Akar persoalan kemiskinan dan stunting di NTT itu karena tidak ada air. Maka kita membantu mencari titik-titik air di sana,” ujarnya.

Di lingkungan kampus, pengelolaan udara juga dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem hierarki penggunaan agar tidak terjadi pemborosan. Ia menekankan pentingnya kesadaran dalam memanfaatkan udara sesuai kebutuhan. “Air itu sebenarnya ada kastanya. Air minum, air mandi, sampai air untuk mencuci. Jadi tidak boleh sekali pakai,” katanya.

Ia menegaskan, pengakuan UNESCO bukan sekadar prestasi, melainkan tanggung jawab besar untuk terus berkontribusi dalam isu-isu global. “Kita tidak hanya berpikir hari ini, tapi 50 tahun, 100 tahun, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita tetap membutuhkan lingkungan yang menopang, termasuk udara,” tutupnya.