
Kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitar mendorong lahirnya inovasi dari
mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui mata kuliah
Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mereka mengembangkan Solar Powered
Automatic Irrigation System, yakni sistem irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang
dirancang untuk meningkatkan efisiensi pertanian skala kecil. Inovasi yang lahir dari ruang
kelas ini juga menjadi bentuk kontribusi akademik dalam mendukung Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek efisiensi energi dan pengelolaan sumber daya
air.
Alat tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023,
bersama timnya. Ide awal muncul dari pengamatan terhadap praktik penyiraman tanaman
yang masih banyak dilakukan secara manual. Metode tersebut dinilai kurang efisien karena
memerlukan waktu dan tenaga, sekaligus berpotensi menyebabkan pemborosan air.
Berangkat dari permasalahan itu, tim merancang sistem irigasi tetes otomatis yang mampu
bekerja secara cerdas dengan memanfaatkan energi terbarukan.
Teknologi yang digunakan mengandalkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi
yang dihasilkan disimpan dalam baterai, kemudian digunakan untuk menjalankan sistem
berbasis Arduino. Sensor kelembapan tanah menjadi komponen utama yang menentukan
kapan tanaman membutuhkan air. Dengan mekanisme tersebut, proses penyiraman
dilakukan hanya ketika kondisi tanah memerlukannya, sehingga penggunaan air menjadi
lebih efisien.
Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Namun,
desainnya dibuat fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan berbagai jenis tanaman dan
kondisi lahan. Penggunaan energi surya juga menjadi nilai tambah karena mampu
mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional serta menekan biaya operasional bagi
petani.
Selain efisiensi air dan energi, inovasi ini juga membuka peluang pengembangan lanjutan.
Sistem irigasi berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun
vitamin tanaman secara otomatis. Dengan demikian, perawatan tanaman dapat dilakukan
lebih terintegrasi dan presisi, sekaligus mendukung praktik pertanian modern yang
berkelanjutan.
Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang penting. Ia menilai mata kuliah P3
mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, dan lebih peka
terhadap kebutuhan masyarakat. Proyek tersebut juga membuktikan bahwa inovasi tidak
harus kompleks, selama berangkat dari masalah nyata dan menghasilkan solusi yang
aplikatif.
Dosen pembimbing Amelia Khoidir menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip
Irrigation System mencerminkan pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan
teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem irigasi presisi. Inovasi tersebut mencakup
pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara
otomatis. Menurutnya, proyek ini melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem,
serta pengambilan keputusan berbasis data, sekaligus memiliki potensi dikembangkan
menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan.
Keikutsertaan dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM menunjukkan bagaimana
pembelajaran berbasis proyek mampu melahirkan inovasi yang aplikatif. Tidak sekadar tugas
perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menjadi bukti bahwa mahasiswa
mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berkontribusi pada pengembangan
pertanian berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat.
