
Abi Mufid Octavio 202210120311083 FT/Teknik Mesin
Juara I Pilmapres UMM
Malang, Di balik padatnya jadwal perkuliahan dan tanggung jawab organisasi, seorang mahasiswa mampu menunjukkan bahwa waktu yang terbatas bukanlah penghalang untuk berkarya dan meraih prestasi. Itulah yang dijalani oleh Abi Mufid, mahasiswa Prodi Teknik Mesin yang menjadikan masa kuliahnya sebagai ruang eksplorasi potensi dan pembuktian diri.
Sejak duduk di bangku awal perkuliahan, Abi Mufid sudah meniatkan diri untuk aktif dalam organisasi yang linier dengan bidang studinya. Pilihan ini bukan tanpa alasan. “Saya ingin sembari berorganisasi, saya juga mendapatkan ilmu yang mendukung studi saya secara langsung,” tuturnya. Kesibukannya tak berhenti di situ. Ia juga tergabung sebagai Asisten Laboratorium di Muhammadiyah Applied Technology Center, tempat ia memperdalam keterampilan praktis di bidangnya.
Ketekunannya membuahkan hasil. Pada 2024, ia terpilih sebagai salah satu penerima Djarum Beasiswa Plus, sebuah program prestisius yang tak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pengembangan soft skill kepemimpinan.
Tak hanya aktif berorganisasi, ia juga menunjukkan kiprah menonjol di dunia penelitian. Fokus pada bidang kesehatan dan energi baru terbarukan, ia kerap mengikuti berbagai kompetisi riset, sekaligus menulis karya ilmiah yang berhasil terbit di jurnal bereputasi Scopus. “Saya sadar memiliki potensi besar di bidang penelitian dan leadership, namun itu baru benar-benar saya pahami saat menginjak semester enam,” ungkapnya.
Kesadaran itu datang setelah ia secara konsisten menyalurkan minatnya pada hal-hal positif. “Dulu saya tidak terlalu mengenali diri saya. Tapi seiring waktu, saya terbiasa mengatur prioritas, mengikuti lomba, menulis, dan akhirnya saya menemukan potensi itu sendiri,” lanjutnya.
Untuk mengelola waktunya yang padat, ia mengandalkan sistem mapping(pemetaan) jadwal dan target yang dilakukannya sejak awal semester. “Bagi saya, waktu tak bisa diulang, dan penyesalan selalu datang belakangan. Jadi kalau sudah menentukan target, saya harus all in,” tegasnya.
Ia memegang teguh prinsip hidup yang sederhana namun kuat: do the best or nothing. “Saya hanya punya dua pilihan: melakukan dan menjadi yang terbaik, atau hanya menonton orang lain menjadi yang terbaik,” pungkasnya.
Melalui perjalanan ini, Abi Mufid membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya tentang hadir di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana mengelola waktu, mengenali potensi, dan menyalurkannya untuk memberi dampak lebih luas.
