Malang Bagi banyak orang, Indonesia mungkin hanyalah salah satu negara di Asia Tenggara dengan kekayaan alam dan budaya. Namun bagi Ju Boyeong, wanita asal Korea Selatan, Indonesia adalah tanah penuh peluang terutama bagi mereka yang berani melangkah keluar dari arus utama dan menekuni sesuatu yang belum banyak digeluti. “Saya melihat bahwa di Korea, hanya sedikit orang yang bisa berbahasa Indonesia. Padahal, jumlah pekerja asing dari Indonesia di Korea cukup banyak. Saat itu saya berpikir, ‘Ini adalah kesempatan!’” ujar Ju Boyeong dalam bahasa Indonesia yang fasih. Padahal, ketika pertama kali datang ke Tanah Air, ia belum menguasai bahasa Indonesia sama sekali.
Memilih UMM karena Sistem dan Suasana Pendidikan
Langkahnya menuntun ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satu kampus terkemuka yang banyak diminati oleh mahasiswa internasional. Keputusan itu diambil setelah ia mendengar bahwa Malang adalah kota pendidikan terbesar kedua di Indonesia. “Saya ingin belajar di lingkungan yang benar-benar akademis dan terstruktur. Saat mencari informasi, saya menemukan banyak ulasan positif tentang UMM, terutama dari segi kurikulumnya,” tuturnya.
Pilihan itu terbukti tepat. Menurutnya, metode pembelajaran di UMM sangat mendukung perkembangan bahasa. “Dosen tidak hanya memberi materi, tapi juga mengajak kami berdiskusi langsung dalam bahasa Indonesia. Saya bisa melatih pelafalan, tata bahasa, dan ekspresi secara bersamaan. Hasilnya, dari yang awalnya tidak bisa sama sekali, sekarang saya sudah bisa wawancara seperti ini,” katanya dengan senyum bangga.
Menemukan Kekayaan Budaya dan Kehangatan Sosial
Tak hanya dari sisi akademik, Ju Boyeong juga terkesan dengan kekayaan seni dan budaya Indonesia. “Yang paling saya kagumi adalah keberagaman. Ada begitu banyak suku yang berbeda, tapi mereka semua hidup bersama sebagai bangsa Indonesia. Ini kekuatan yang luar biasa,” ungkapnya. Salah satu bentuk seni yang paling memikat hatinya adalah batik. Baginya, batik bukan hanya kain, melainkan media ekspresi identitas. “Motif dan warna batik sangat indah. Ada nilai seni yang tinggi, dan saya kagum karena setiap pola punya makna,” ujarnya. Ia juga merasakan langsung keramahan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. “Orang Indonesia sangat ramah dan terbuka terhadap orang asing. Saya sering dibantu, bahkan oleh orang yang baru saya temui. Budaya saling menyapa dan gotong royong membuat saya merasa aman dan nyaman tinggal di sini,” ujarnya.
Jatuh Hati pada Tempe Kering
Tak lengkap tinggal di Indonesia tanpa membahas kuliner lokal. Di antara banyaknya makanan tradisional, ada satu yang selalu menjadi favoritnya: tempe kering. “Saya bahkan sering beli nasi campur hanya untuk tempe keringnya. Rasanya gurih, manis, sedikit pedas, dan asin. Sangat cocok dengan selera saya,” kata Ju Boyeong. Ia menyebut bahwa tempe kering mengingatkannya pada myulchi bokkeum (멸치볶음), salah satu lauk khas Korea yang juga memiliki rasa manis dan gurih. “Mungkin itu sebabnya saya suka sekali. Rasanya familiar, tapi tetap punya ciri khas Indonesia,” tambahnya.
Bahasa sebagai Jembatan Masa Depan
Meski bukan orang Indonesia, Ju Boyeong yakin bahwa kemampuannya menguasai bahasa dan memahami budaya Indonesia akan membuka peluang besar di masa depan. “Bahasa adalah jembatan dan saya percaya, jika saya menguasainya dengan baik, saya bisa mendapatkan peluang yang tidak dimiliki banyak orang Korea lainnya,” ujarnya yakin. Kini, setelah melewati berbagai tantangan adaptasi, ia mengaku bahwa Indonesia telah memberinya pengalaman hidup yang sangat berharga. “Saya merasa keputusan untuk kuliah di sini adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya.” Dari Korea ke Malang, dari nol dalam bahasa Indonesia hingga bisa berkomunikasi lancar, kisah Ju Boyeong adalah cerminan bagaimana keberanian melangkah ke luar zona nyaman bisa membuka jalan ke masa depan yang lebih luas penuh warna, peluang, dan cerita.
