Kompetensi Halal Jadi Modal Masa Depan, UMM Siapkan Mahasiswa sebagai Penggerak Ekosistem Halal

Pengembangan industri halal di Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat lintas sektor, terutama di tengah indeks literasi ekonomi syariah nasional yang masih berada di bawah angka 50 persen.
Menyikapi tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi
Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) menghadirkan langkah strategis dengan
menempatkan mahasiswa sebagai aktor kunci dalam penguatan ekosistem halal nasional.

Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menjelaskan bahwa industri halal tidak
hanya berbicara soal produk, tetapi juga mencakup empat pilar utama, yakni barang dan jasa,
infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), serta dukungan regulasi pemerintah. Atas dasar itu,
UMM secara konsisten mengintegrasikan materi halal ke dalam kurikulum berbagai program studi, mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum.

Elfi menilai, penguasaan kompetensi halal saat ini menjadi keunggulan kompetitif bagi lulusan
perguruan tinggi. Bahkan, keahlian tersebut relevan dengan program strategis nasional seperti
Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, dapur MBG di berbagai daerah tidak hanya membutuhkan tenaga ahli gizi, tetapi juga SDM yang memahami dan mampu menjamin kehalalan proses produksi pangan.

“Kompetensi halal kini menjadi nilai tambah yang sangat signifikan. Alumni Teknologi Pangan UMM, misalnya, banyak dibutuhkan karena memiliki keahlian ganda. Salah satunya Iffi Amalia, S.T.P., yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, berhasil diterima sebagai Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi karena kemampuan sertifikasi halalnya,” ungkap Elfi saat ditemui tim Humas UMM, 12 Januari lalu.

Lebih lanjut, Elfi menjelaskan bahwa PS P3 Halal UMM, yang telah berdiri sejak 2008 sebagai pusat kajian pangan aman dan halal pertama di Indonesia, merancang skema pembelajaran yang
berdampak langsung bagi mahasiswa. Melalui pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (P3H),
mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terjun langsung mendampingi pelaku UMKM
dalam proses sertifikasi halal.

“Program ini memberikan empat keuntungan sekaligus bagi mahasiswa. Mereka memperoleh
kompetensi teknis halal, mendapatkan konversi nilai A tanpa UAS jika berhasil mengawal sertifikathalal UMKM, dapat lulus tepat waktu karena laporan pendampingan bisa dijadikan skripsi, serta mendapatkan nilai ibadah karena membantu UMKM memperoleh sertifikasi halal secara gratis,” jelasnya.

Implementasi program tersebut menunjukkan hasil konkret di lapangan. Dalam kurun waktu empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menuntaskan tugas terstruktur dan mendampingi terbitnya sertifikat halal untuk berbagai produk, seperti Minuman Bu Neneng di kawasan Sengkaling, Bumbu Pecel Bu Romlah Singosari, hingga Dimsum Littlebite.

Elfi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam
masyarakat. “Dengan bekal kompetensi halal ini, mahasiswa tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak gaya hidup halal yang inklusif dan berkelanjutan di tengah masyarakat,” pungkasnya.