Kajian Ramadhan Gugah Semangat Fungsionaris

Minggu, 03 Juni 2018 00:44 WIB

Foto: Diego/Bestari

Bertempat di Aula Lantai 9 GKB 4, UMM melalui Biro Kemahasiswaan menyelenggarakan acara Kajian Ramadhan yang dihadiri oleh perwakilan jajaran lembaga organisasi di UMM (2/6). Acara itu memiliki lima bahasan materi yang disampaikan oleh jajaran rektorat dan beberapa dosen UMM.

 

Sidik Sunaryo, Wakil Rektor III UMM dalam sambutannya menjelaskan, mahasiswa harus saling mengedukasi sesama dan memberikan arahan untuk bersikap baik. Sebagai calon pemimpin bangsa, mahasiswa harus tahu kewajiban untuk saling mengarahkan. “Pemimpin itu harus arif dan bijaksana,” ucap pria yang juga menjabat sebagai dosen Fakultas Hukum itu.

 

Membawa tema “Muhammadiyah Di Tengah-tengah IdeologimIslam Kontemporer,” Wakil rektor I, Syamsul Arifin menyampaikan, agama adalah identitas yang tidak dapat dilepas, tetapi tidak mengabaikan kesatuan dan keragaman. Ada tiga lapisan dalam beragama yaitu fundamental values (titik tolak beragama), interpretasi (perbedaan pendapat dan manifestasi (akulturasi budaya), ketiga lapisan itu harus dipahami secara keseluruhan.

 

Dalam menanggapi hal tersebut, bagi pria yang akarb disapa Syamsul, mahasiswa perlu mengembangkan literasi keagamaan agar tetap teguh pada islam yang benar. “Terkadang pendapat seseorang saat ini benar, tetapi suatu saat bisa salah, begitu sebaliknya. Maka dari itu perlu pengembangan lebih dalam mengenai keagamaan,” ujarnya.

 

Muh. Nur Hakim dalam ceramahnya yang bertajuk “Al-Qur’an sebagai Inspirasi Ilmu dan Peradaban” menekankan pentingnya Al-qur’an dijadikan sebagai landasan inspirasi untuk menggali lebih dalam mengenai ilmu-ilmu alam dan kehidupan. Memahami Al-qur’an harus secara komprehensif, tidak hanya dengan melihat dari satu ayat saja melainkan harus dengan melihat ayat lain dan hadist yang berhubungan. 

 

Khozin, dosen FAI yang menyampaikan materi mengenai “Muhammadiyah, Sejarah, Doktrin, dan Tantangan Masa Depan” mengungkapkan, Muhammadiyah adalah Islam yang berkemajuan, oleh karena itu, diharapkan organisasi islam terbesar ke dua di Indonesia itu bisa menjadi bingkai untuk bertindak. Tantangan masa depan bagi Muhammadiyah adalah kepeloporan bidang sosial yang melemah. Hal tersebut menjadi tugas mahasiswa UMM untuk ikut terlibat dalam kegiatan di Muhammadiyah.

 

p_iya

Shared: